RESUME MANAJEMEN PERUBAHAN
KELOMPOK 6
A. Definisi Konseptual Knowledge Management
“Change
management is a systematic approach to dealing with change, both from the
perspective of an organization and on the individual level”. Manajemen
perubahan adalah pendekatan sistematis untuk menghadapi perubahan, baik dari
prespektif organisasi dan pada tingkat individu.
“Change management is an approach to
transitioning individuals, teams, and organizations to a desired future state”. Manajemen
perubahan alah sebuah pendekatan untuk transisi individu, tim, dan organisasi
untuk keadaan masa depan yang diinginkan.
Manajemen
perubahan yaitu suatu proses secara sistematis dalam menerapkan pengetahuan,
saran dan sumber daya yang diperlukan untuk memengaruhi perubahan pada orang
yang akan terkena dampak dari proses tersebut.
Jadi, manajemen perubahan
adalah Proses pendekatan secara sistematis dimana perusahaan menghadapi
perubahan yang akan mempengaruhi pola pikir individu, tim, dan organisasi yang
menerapkan pengetahuan, saran dan sumber daya yang diperlukan untuk masa depan yang diinginkan.
B. Pembahasan
a) Mazhab Perubahan
Mahzab perubahan adalah isitilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang
dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkret maupun
abstrak.
Jadi mahzab perubahan adalah jalan atau cara peralihan dari waktu ke waktu.
Manajemen perubahan memiliki beberapa Mahzab adalah sebagai berikut :
·
Manajemen Tradisional
Manajemen tradisional adalah manajemen yang pada mulanya berkembang secara alamiah
yang berorientasi fisik dan berprinsip kepada garis keturunan.
Manajemen
Tradisional memiliki beberapa ciri, diantaranya yaitu :
- Tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja
- Manajer mengalami kesulitan-kesulitan dan frustasi karena karyawan tidak
selalu mengikuti pola-pola perilaku yang rasional.
- Karyawan bertanggung jawab atas perkerjaan tertentu yang berulang-ulang.
·
Manajemen Klasik
Manajemen klasik timbul dari kebutuhan akan pedoman untuk mengelola
organisasi yang kompleks, misalnya sebuah pabrik. Manajemen itu tidak
dilahirkan, tetapi dapat diajarkan, asalkan prinsip-prinsip yang ada mendasari
dan teori umum manajemen dapat diterapkan.
Para ahli teori manajemen klasik
dibatasi oleh pengetahuan pada zamannya, namun banyak dari teori klasik itu
tetap bertahan sampai sekarang. Manajemen klasik masih diterima sampai sekarang
karena membuat pemisahan kerja.
Menurut Fayol ada 14 prinsip manajemen yang merupakan kebenaran universal
yang merupakan prinsip umum manajemen, yaitu :
- Pembagian Kerja
- Otoritas
- Tata Tertib
- Kesatuan Komando
- Kesatuan Arah
- Subrodinasi kepentingan-kepentingan individu terhadap kepentingan umum
- Balas jasa
- Sentralisasi
- Hierarki
- Tatanan
- Kesamaan
- Kemantapan para karyawan dalam pekerjaan
- Inisiatif
- Semangat
·
Manajemen Hubungan
Manusiawi
Teori hubungan manusia adalah teori yang menggambarkan cara-cara bagaimana
manajer berhubungan dengan bawahannya. Aliran ini muncul karena manajer
melakukan pendekatan klasik yang tidak dapat dicapai dengan keserasian
sempurna.
Aliran ini untuk memperkuat aliran klasik, yaitu dengan menambahkan wawasan
social dan psikologi.
Menurut Hugo Munstenberg, produktifitas dapat ditingkatkan denga 3 jalan
yaitu :
- Menemukan orang yang terbaik
- Menciptakan kondisi psikologis dan pekerjaan yang terbaik
- Menggunakan pengaruh psikologis untuk mendorong karyawan
·
Manajemen Modern
Manajemen modern adalah perluasan dari manajemen ilmiah yang mulai
berkembang sejak tahun 1940an dan banyak menggunakan manajemen sains atau manajemen
operasi sebagai pendekatan ilmu manajemen yang banyak menggunakan ilmu
matematika, dan fisika untuk memecahkan masalah operasional. Tujuan dari
manajemen sains adalah untuk memberikan landasan kuantitatif dalam pengambilan
keputusan (Gibson, Donelly. Ivancevich 1996) .
Dalam manajemen modern, konsep manajemen dibagi menjadi :
- Manajemen berdasarkan hasil
- Manajemen berdasarkan tanggungjawab social
- Manajemen berdasarkan sasaran
- Manajemen berdasarkan pengcualian
- Manajemen terapan
b) Teori dan Model Perubahan
Perubahan-perubahan
sosial akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi interaksi antarmanusia
dan antarmasyarakat.
Perubahan sosial
terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan
keseimbangan masyarakat, seperti perubahan dalam unsurunsur geografis,
biologis, ekonomis, dan kebudayaan. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan
untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis.
Adapun teori-teori
yang menjelaskan mengenai perubahan sosial adalah sebagai berikut :
·
Teori Evolusi
Teori ini
pada dasarnya berpijak pada perubahan yang
memerlukan proses yang cukup panjang, dan terdapat beberapan tahapan
yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan.
Teori evolusi
di golongkan kedalam beberapa kategori, yaitu :
-
unilinear theories of evolution
Teori ini
berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami
perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana
ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain
Auguste Comte dan Herbert Spencer.
-
universal theories of evolution, dan
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak
perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah
mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori
ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen
menjadi kelompok yang heterogen.
-
multilined theories of evolution.
Teori ini lebih menekankan pada penelitian terhadap tahaptahap
perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian
tentang perubahan sistem mata pencaharian dari sistem berburu ke sistem
pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.
Menurut Paul B. Horton dan
Chester
L. Hunt, teori Evolusi terdapat kelemahan yang harus
diperhatikan yaitu :
a) Data yang menunjang penentuan
tahapan-tahapan dalam masyarakat menjadi sebuah rangkaian tahapan seringkali
tidak cermat.
b) Urut-urutan dalam tahap-tahap
perkembangan tidak sepenuhnya tegas, karena ada beberapa kelompok masyarakat
yang mampu melampaui tahapan tertentu dan langsung menuju pada tahap
berikutnya, dengan kata lain melompati suatu tahapan. Sebaliknya, ada kelompok
masyarakat yang justru berjalan mundur, tidak maju seperti yang diinginkan oleh
teori ini.
c) Pandangan yang menyatakan bahwa
perubahan sosial akan berakhir pada puncaknya, ketika masyarakat telah mencapai
kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya. Pandangan seperti ini perlu
ditinjau ulang, karena apabila perubahan memang merupakan sesuatu yang konstan,
ini berarti bahwa setiap urutan tahapan perubahan akan mencapai titik akhir.
Padahal perubahan merupakan sesuatu
yang bersifat terus menerus sepanjang manusia melakukan interaksi dan
sosialisasi.
·
Teori
Konflik (Conflict Theory)
Teori ini menilai bahwa sesuatu yang
konstan atau tetap adalah konflik sosial, bukan perubahan sosial. Karena
perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik tersebut. Karena
konflik berlangsung terus-menerus, maka perubahan juga akan mengikutinya. Dua
tokoh yang pemikirannya menjadi pedoman dalam Teori Konflik ini adalah Karl
Marx dan Ralf Dahrendorf.
Secara lebih rinci, pandangan Teori
Konflik lebih menitikberatkan pada hal berikut ini.
a. Setiap masyarakat terus-menerus
berubah.
b. Setiap komponen masyarakat biasanya
menunjang perubahan masyarakat.
c. Setiap masyarakat biasanya berada
dalam ketegangan dan konflik.
d. Kestabilan sosial akan tergantung pada
tekanan terhadap golongan yang satu oleh golongan yang lainnya.
·
Teori
Fungsionalis (Functionalist Theory)
Konsep yang berkembang dari teori ini
adalah cultural lag
(kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan
bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan
dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja
berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti
kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan
unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan
kesenjangan sosial atau cultural
lag .
Para penganut Teori Fungsionalis lebih
menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan
penjelasan. Perubahan dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan
masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah
diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat,
maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat,
tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan
ditolak. Tokoh dari teori ini adalah William Ogburn.
Secara lebih ringkas, pandangan Teori
Fungsionalis adalah sebagai berikut.
a. Setiap masyarakat relatif bersifat
stabil.
b. Setiap komponen masyarakat biasanya
menunjang kestabilan masyarakat.
c. Setiap masyarakat biasanya relatif
terintegrasi.
d. Kestabilan sosial sangat tergantung
pada kesepakatan bersama (konsensus) di kalangan anggota kelompok masyarakat.
·
Teori
Siklis (Cyclical Theory)
Teori ini mencoba melihat bahwa suatu
perubahan sosial itu tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh siapapun dan oleh
apapun. Karena dalam setiap masyarakat terdapat perputaran atau siklus yang
harus diikutinya. Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu kebudayaan
atau kehidupan sosial merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari.
Sementara itu, beberapa bentuk Teori
Siklis adalah sebagai berikut.
a.
Teori Oswald Spengler (1880-1936)
Menurut teori ini, pertumbuhan manusia
mengalami empat tahapan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Pentahapan
tersebut oleh Spengler digunakan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat,
bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan
keruntuhan. Proses siklus ini memakan waktu sekitar seribu tahun.
b.
Teori Pitirim A. Sorokin (1889-1968)
Sorokin berpandangan bahwa semua
peradaban besar berada dalam siklus tiga sistem kebudayaan yang berputar tanpa
akhir. Siklus tiga sistem kebudayaan ini adalah kebudayaan ideasional,
idealistis, dan sensasi.
1) Kebudayaan ideasional, yaitu
kebudayaan yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap kekuatan
supranatural.
2) Kebudayaan idealistis, yaitu
kebudayaan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural) dan
rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat
ideal.
3) Kebudayaan sensasi, yaitu kebudayaan
di mana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.
c.
Teori Arnold Toynbee (1889-1975)
Toynbee menilai bahwa peradaban besar
berada dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan akhirnya kematian.
Beberapa peradaban besar menurut Toynbee telah mengalami kepunahan kecuali
peradaban Barat, yang dewasa ini beralih menuju ke tahap kepunahannya.
Model
Perubahan
· Model
Perubahan Lewin
Kurt Lewin (1951)
mengembangkan model perubahan terencana yang disebut force field model yang
menekankan kekuatan penekanan.
Model ini dibagi
dalam 3 tahap, yang mengambil inisiatif,mengelola dan menstabilkan proses
perubahan, yaitu :
- Pencarian
(unfreezing)
Pencarian merupakan tahap
pertama yang focus pada penciptaan motivasi untuk berubah. Individu didorong
untuk membantu perilaku dan sikap lama yang diinginkan organisasi.
a. Changing
atau Moving
Changing atau moving
merupakan tahap pembelajaran dimana karyawandiberi informasi baru, model
perilaku baru atau cara baru dalam melihat sesuatu. Tujuannya adalah membantu
karyawan dalam mempelajari konsep atau titik pandang baru.
b. Pembekuan
kembali (Refreezing)
Refreezing merupakan
tahap dimana perubahan yang terjadi distabilkan dengan membantu karyawan
mengintergrasikan perilaku dan sikap yang telah berubah ke dalam cara yang
normal untuk melakukan sesuatu. Hal ini dilakukan dengan member karyawan
kesempatan untuk menunjukkan perilaku dan sikap baru.
· Model Perubahan Tyagi
Tyagi (2001) beranggapan
bahwa model Lewin tersebut tidak lengkap karena tidak menyangkut beberapa
masalah penting. Proses perubahan tidak hanya menyangkut perilaku SDM. Beberapa
komponen system dalam proses perubahan dimulai dengan :
-
Adanya kekuasaan untuk melakukan perubahan
-
Mengnal dan mengdefinisikan masalah
-
Proses penyelesaian masalah
-
Mengimplementasikan perubahan dan
-
Mengukur, mengevaluasi, dan mengontrol
hasilnya
· Model Perubahan Kreitner dan
Kinicki
Pendekatan system
Kreitner dan Kinicki merupakan kerangka kerja perubahan organisasional yang
terdiri dari tiga komponen, yaitu :
-
Input
Merupakan masukan dan
sebagai pendorong bagi terjadinya proses perubahan semua organisasional harus
konsisten dengan visi dan misi. Didalamnya terkandung unsure masukan internal
dan eksternal yang keduanya memiliki kekuatan, kelemahan, dan tantangan.
c.
Target
elements of change
Mencermikan elemen
didalam organisasi yang dilakukan dalam proses perubahan. Sasaran perubahan
diarahkan pada pengaturan organisasi, penetapan tujuan, factor social, metode,
design kerja dan teknologi.
d. Outputs
Merupakan hasil akhir
yang diinginkan dari suatu perubahan.Hasil perubahan dapat diukur pada beberapa tujuan
baik pada tingkat organisasional,tingkat kelompok maupun tingkat
individual
· Model Perubahan Burnes
Burnes (2000)
mengemukakan tiga macam model perubahan organisasional,yang dikelompokkan
berdasarkan frekuensi dan besaran perubahan, yaitu:
a.
The increamental model of change
Model ini
berpandangan bahwa perubahan merupkan suatu proses yang berlangsung secara
bertahap. Perubahan dapat terjadi secara bergantian pada masing-masing bagian
dalam organisasi secara terpisah.
b. The
punctuated equilibirium model
Model keseimbangan
terpotong terjadi bila aktivitas sehingga disebut periode equilibirium.
c.
The continuous transformation model
Model transformasi
berkelanjutan merupakan model perubahan yang bertujuan untuk menjaga organisasi
agar tetap survive dengan mengembangkan kemampuan untuk mengubah dirinya secara
berkelanjutan.
c)
Pentingnya Manusia dalam Organisasi
Secara alamiah keberadaan suatu organisasi karena didalamnya tedapat
manusia melakukan pernanan berbeda-beda, demikian pula karakteristik
berbeda-beda pula antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada manusia yang
mempunyai persamaan dan perbedaan mutlak satu sama lain, tetapi manusia dalam
organisasi seringkali diperlakukan sama. Misalnya menetapkan prosedur jam
kerja, peraturan, uraian tugas dan semacamnya semuanya dalam organisasi
seringkali diperlakukan sama. Manusia dalam organisasi bertindak sebagai kepala
secara presentasi kegiatannya memang lebih banyak berpikir ketimbang dengan
bekerja. Dengan menggunakan tangan dan kakinya, dia akan lebih banyak bekerja
daripada berpikir.
Faktor individu manusia tidak
hanya terbatas pada hasil kerjaan pemikiran, tetapi juga memiliki rasa atau
perasaan. Pimpinan organisasi yang baik adalah apabila memiliki kemampuan
memandang ke depan dan mempersiapkan diri untuk meraihnya. Salah satu cara yang
penting adalah melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan jenis dan bentuk
tugas setiap anggota organisasi itu. Pendidikan berorientasi kepada pembentukan
dan kemahiran berkeja. Manusia dalam organisasi memiliki peranan sangat penting
karena kemajuan atau kemunduran suatu organisasi sangat ditentukan oleh kualitas,
kuantitas dan moralitas manusia dalam organisasi bersangkutan. Kualitas manusia
menentukan mutu luaran organisasi tersebut. Kuantitas manusia menentukan
kecukupan tenaga kerja yang dibutuhkan. Apabila dalam suatu organisasi
manusianya tidak memiliki moralitas, ini merupakan wabah peyakit yang dapat
menyerang organisasi dan akan menyebabkan organisasi tersebut sakit atau bahkan
mati. Pernan manusia sebagai jiwa organisasi karena menentukan bubar tidaknya,
bersekutu tidaknya manusia itu dalam melakukan kegiatan untuk kepentingan
bersama. Manusia sebagai jasad organisasi, karena kuat dan lemahnya suatu
organisasi ditentukan oleh manusia itu sendiri.
Roh atau jiwa maupun jasad organisasi merupakan bagian yang sangat penting
untuk menentukan panjang atau pendeknya umur suatu organisasi. Sangat logis
apabila dikatakan bahwa sepanjang jiwa dan dan jasad sehat sepanjang itu pula
organisasi akan sehat dan kuat. Tetapi apabila jiwa atau roh dan jasad itu
lemah maka sepanjang itu pula organisasi itu pula organisasi itu sakit atau
lemah, apabila tidak mendapat terapi secara tepat maka tidak tertutup
kemungkinan organisasi tersebut akan mati.
d) Perubahan Lingkungan dalam Organisasi
Perubahan-perubahan dalam
lingkungan organisasi dapat berwujud perkembangan teknologi, perubahan kondisi
ekonomi dan politik, perubahan kualitas dan sikap anggota, semakin pentingnya
tanggung jawab sosial organisasi, dsb. Pengelolaan perubahan secara efektif
tidak hanya diperlukan bagi kelangsungan hidup organisasi tetapi juga sebagai
tantangan pengembangan. Faktor-faktor yang menimbulkan atau menyebabkan
perubahan, berasal baik dari luar maupun dalam organisasi. Berbagai faktor
dalam lingkungan eksternal yang menentukan kemampuan organisasi untuk menarik
sumber daya : sumber daya manusia, dan bahan baku yang dibutuhkan atau untuk
memproduksi dan memasarkan barang-barang atau jasa-jasanya, menjadi salah satu
kelompok kekuatan penyebab perubahan. Berbagai faktor dalam lingkungan internal
yang memengaruhi cara organisasi melaksanakan kegiatan-kegiatannya, juga
merupakan kelompok kekuatan lain yang menyebabkan timbulnya perubahan.

0 komentar:
Posting Komentar