RESUME MOTIVASI
KELOMPOK 8
A.
Definisi Konseptual
Knowledge Management
“Change
management is a systematic approach to dealing with change, both from the
perspective of an organization and on the individual level”. Manajemen perubahan adalah pendekatan sistematis untuk menghadapi perubahan, baik dari prespektif organisasi dan pada tingkat individu.
“Change management is an approach to transitioning individuals, teams,
and organizations to a desired future state”.Manajemen perubahan adalah sebuah pendekatan untuk transisi individu, tim, dan organisasi untuk keadaan masa depan yang diinginkan.
Manajemen perubahan yaitu suatu proses secara sistematis dalam menerapkan pengetahuan, saran dan sumber daya yang diperlukan untuk memengaruhi perubahan pada orang yang akan terkena dampak dari proses tersebut.
Jadi,
manajemen perubahan adalah Proses pendekatan secara sistematis dimana
perusahaan menghadapi perubahan yang akan mempengaruhi pola pikir individu,
tim, dan organisasi yang menerapkan pengetahuan, saran dan sumber daya yang
diperlukan untuk masa depan yang
diinginkan.
B.
Pembahasan
a)
Teori-Teori Motivasi
Stephen robbins dan judge
mengelompokan teori motivasi dalam dua kategori berdasarkan perkembangannya,
diantaranya :
1)
Early theories of motivation
Yang termasuk dalam early
theories of motivation , antaralain:
·
Hierarki Teori
Kebutuhan (Herarchical of Needs Theory)
Menurut Abraham Maslow bahwa pada setiap diri manusia itu
terdiri atas lima kebutuhan yaitu Kebutuhan Fisik terdiri dari kebutuhan akan
perumahan, makanan, minuman, dan kesehatan. Kebutuhan rasa aman dalam dunia
kerja, pegawai menginginkan adanya jaminan sosial tenaga kerja, pensiun,
perlengkapan keselamatan kerja, dan kepastian dalam status kepegawaian.
Kebutuhan sosial, kebutuhan ini berkaitan dengan menjadi bagian dari orang
lain, dicintai orang lain, dan mencintai orang lain.
Kebutuhan pengakuan, kebutuhan yang berkaitan tidak hanya
menjadi bagian dari orang lain. Sedangkan kebutuhan untuk aktualisasi diri,
yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan,
skill, dan potensi.
·
Teori Kebutuhan
Mc.Clelland’s (Mc.Clelland’s Theory of Needs)
Teori Kebutuhan McClelland’s (McClelland’s Theory of Needs)McClelland
theoryof needs memfokuskan kepada tiga hal, yaitu:
-
Kebutuhan dalam mencapai kesuksesan: kemampuan untuk mencapai
hubungan kepada standar perusahaan yang telah ditentukan juga perjuangan
karyawan untuk menuju keberhasilan.
-
Kebutuhan dalam kekuasaan atau otoritas kerja: kebutuhan untuk
membuat orang berperilaku dalam keadaan yang wajar dan bijaksana didalam
tugasnya masing-masing
-
Kebutuhan untuk berafiliasi: hasrat untuk bersahabat dan
mengenal lebih dekat rekan kerja.
·
Teori X dan Y Mc.
Gregor
Teori X dan Y, Douglas McGregor yang dikutip oleh Malayu S.P
Hasibuan (2003:160) mengajukan dua pandangan yang berbeda tentang manusia,
negatif dengan tanda label x dan positif dengan tanda label y
-
Teori X (negatif) merumuskan asumsi-asumsi sebagai berikut:
a.
Rata-rata
karyawan malas dan tidak suka bekerja.
b. Umumnya karyawan tidak berambisi mencapai prestasi yang optimal dan
selalu menghindari tanggung jawabnya dengan cara mengkambinghitamkan orang
lain.
c. Karyawan lebih suka dibimbing, diperintah, dan diawasi dalam
melaksanakan pekerjaannya.
d.
Karyawan lebih mementingkan diri sendiri dan tidak memperdulikan
tujuan organisasi.
- Teori Y (positif) memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut:
a.
Rata-rata karyawan rajin dan menganggap sesungguhnya bekerja,
sama wajarnya dengan bermain-main dan beristirahat. Pekerjaan tidak perlu
dihindari dan dipaksakan, bahkan banyak karyawan tidak betah dan merasa kesal
tidak bekerja.
b.
Lazimnya karyawan dapat memikul tanggung jawab dan berambisi
untuk maju dengan mencapai prestasi kerja yang optimal.
c. Karyawan selalu berusaha mencapai sasaran organisasi dan
mengambangkan dirinya untuk mencapai sasran itu. Organisasi seharusnya
memungkinkan karyawan mewujudkan potenisnya sendiri dengan memberikan sumbangan
pada tercapainya sasaran perusahaan.
·
Teori Herzberg
Menurut Hezberg adalah teori yan ia kembangkan lagi berdasarkan
teori Hiegiene yakni, orang menginginkan dua macam faktor kebutuhan, yaitu:
a. Kebutuhan
akan
kesehatan
atau
kebutuhan
akan
pemeliharaan (maintenance factors).Faktor kesehatan merupakan kebutuhan
yang berlangsung terus-menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi.
Faktor-faktor pemeliharaan meliputi balas jasa, kondisi kerja fisik,
supervisi, macam-macam
tunjangan.
b. Faktor
pemeliharaan yang menyangkut kebutuhan psikologis seseorang.
Kebutuhan ini meliputi serangkaian kondisi intrinsik,
kepuasan pekerjaan
yang apabila terdapat dalam pekerjaan akan menggerakkan tingkat motivasi
yang kuat, yang dapat
menghasilkan prestasi yang baik.
2) Contemporary theories of motivation
Yang termasuk dalam Contemporary theories of motivation, antara
lain:
a) Self-Determination Theory
Berbagai
teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai
model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan
persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya
pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal
dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang
ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan
tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut
berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku. Dalam hal ini berlakulah apaya
yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung
untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya
dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya
konsekwensi yang merugikan. Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik
yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik
tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada
kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi
perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih
teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya
dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah,
yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian
hari.
Contoh
sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat
teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi
indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi
negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu
datang tepat pada waktunya di tempat tugas. Penting untuk diperhatikan bahwa agar
cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat
dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut
ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.
b) Teori Penentuan Tujuan (Goal setting theory)
Teori
penentuan tujuan adalah teori yang mengemukakan bahwa niat untuk mencapai
tujuan merupakan sumber motivasi kerja yang utama. Artinya, tujuan memberitahu
seorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus
dikeluarkan.
Edwin
Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme
motivasional yakni :
a.
tujuan-tujuan mengarahkan perhatian;
b.
tujuan-tujuan mengatur upaya;
c.
tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan
d. tujuan-tujuan
menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang
penetapan tujuan.
c) Teori evaluasi kognitif (Self-efficacy Theory)
Teori
evaluasi kognitif adalah teori yang menyatakan bahwa pemberian
penghargaan-penghargaan ekstrinsik untuk perilaku yang sebelumnya memuaskan
secara intrinsik cenderung mengurangi tingkat motivasi secara keseluruhan.Teori
evaluasi kognitif telah diteliti secara eksensif dan ada banyak studi yang
mendukung.
d) Teori penguatan (Reinforcement
Theory)
Teori penguatan adalah teori di mana perilaku merupakan sebuah fungsi dari
konsekuensi-konsekuensinya jadi teori tersebut mengabaikan keadaan batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi pada seseorang ketika
ia melakukan tindakan.
Berbagai
teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai
model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan
persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya
pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal
dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang
ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan
tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang
turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku. Dalam hal ini berlakulah
apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia
cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang
menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang
mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan. Contoh yang sangat
sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik
dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian
tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut
menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja
lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan
keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga
kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai
konsekwensi positif lagi di kemudian hari.
Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali
mendapat teguran dari atasannya, mungkin
disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan
dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat
pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.
Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi
perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu
diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi
pula.
e) Teori keadilan (Equity
theory/organizational jutice)
Teori keadilan adalah teori bahwa individu membandingkan masukan-masukan dan
hasil pekerjaan mereka dengan masukan-masukan dan hasil pekerjaan orang lain,
dan kemudian merespons untuk menghilangkan ketidakadilan.
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang
diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
·
Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang
lebihbesar, atau Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
·
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu:
-
Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan,
keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;
-
Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang
kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang
bersangkutan sendiri;
-
Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di
organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
-
Peraturan perundang-undangan
yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai.
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu was pada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidak puasan, tingkat kemangkiran yang
tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing,
pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai keorganisasi lain
f) Teori Harapan (Expectancy
Theory Victor H. Vroom)
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul
“Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai“ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang
bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang
diinginkannya yaitu.
Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang
bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.
Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang
bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya yaitu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya yaitu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumberdaya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang
diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling
tepat untuk mewujudkan keinginan nya yaitu.Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang
diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.
Newstrom mengemukakan
bahwa sebagai indikator motivasi adalah:
a. Engagement, merupakan
janji pekerja untuk menunjukan tingkat antusiasme, intensiatif, dan usaha untuk
meneuskan.
b. Commitment, adalah
suatu tingkatan dimana pekerja mengikat dengan orgnisasi dan menunjukan
tindakan organizational citizenship.
c. Satisfaction, kepuasan
merupakan ferleksi pemenuhan kontrak psikologis dan memenuhi harapan di tempat
kerja.
d.
Turnover , merupakan
kehilangan pekerjaan yang dihagai.
b)
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Motivasi
Motivasi sebagai proses batin atau proses psikologis dalam diri seseorang,
yang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara
lain :
·
Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang mempengaruhi motivasi, yaitu :
- Lingkungan Kerja
- Pemimpin dan
kepemimpinannya
- Tuntutan perkembangan
organisasi atau tugas
- Dorongan atau
bimbingan atasan
·
Faktor Intern
Faktor Intern yang mempengaruhi motivasi, yaitu :
- Pembawaan individu
- Tingkat pendidikan
- Pengalaman masa lampau
- Keinginan atau harapan
masa depan.
Sumber lain
mengungkapkan, bahwa di dalam motivasi itu terdapat suatu rangkaian interaksi
antar berbagai faktor. Berbagai faktor yang dimaksud meliputi :
- Individu dengan segala
unsur-unsurnya
- Situasi dimana
individu bekerja akan menimbulkan berbagai rangsangan
- Proses penyesuaian
yang harus dilakukan oleh masing-masing individu terhadap pelaksanaan
pekerjaannya
- Pengaruh yang kini
datang dari berbagai pihak
- Reaksi yang timbul
terhadap pengaruh individu
- Perilaku atas
perbuatan yang ditampilkan oleh individu
- Timbul persepsi dan
bangkitnya kebutuhan baru, cita-cita dan tujuan.
c)
Konsep-Konsep Motivasi
Menurut Suwanto terdapat beberapa konsep
motivasi, diantaranya :
·
Model Tradisional
Untuk memotivasi pegawai agar gairah kerja meningkat perlu
diterapkan sistem insentif dalam bentuk uang atau barang kepada pegawai yang
berprestasi.
·
Model Hubungan Manusia
Untuk memotivasi pegawai agar gairah kerjanya meningkat adalah
dengan mengakui kebutuhan sosial mereka dan membuat mereka merasa berguna dan
penting.
·
Model Sumber Daya Manusia
Pegawai dimotivasi oleh banyak faktor, bukan hanya uang atau
barang tetapi juga kebutuhan akan pencapaian dan pekerjaan yang berarti.
d)
Jenis-Jenis Motivasi
Menurut
Mc. Dougal, jenis motivasi dibagi menjadi 2, yakni :
·
Motivasi Primer (segi biologis
atau jasmani manusia)
Motivasi Primer adalah motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap
individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Contoh seseorang yang
senang membaca tidak perlu lagi didorong untuk membaca, ia dengan sendirinya
akan mencari buku-buku untuk dibacanya. Atau tingkah laku terdiri dari
pemikiran tentang tujuan, perasaan subjektif dan dorongan mencapai kepuasan.
·
Motivasi Sekunder (Lingkungan)
Motivasi sekunder adalah motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya perlu dirangsang dari luar, karena dalamdiri setiap individu tidak
ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagi contoh yakni, seseorang yang
bekerja karena ingin mendapatkan hadiah dari orang lain. Atau pengertian
lainnya yaitu, motivasi yang dipelajari yang berkaitan dengan motif sosial,
sikap, dan emosi dalam belajar (Afektif, kognitif, kuratif).
Jenis-jenis motivasi dapat dikelompokan menjadi dua jenis
menurut Malayu S.P. Hasibuan (2005), yaitu sebagai berikut:
- Motivasi Positif (Insentif positif), manajer memotivasi bawahan
dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi baik. Dengan motivasi
positif ini semangat kerja bawahan akan meningkat, karena manusia pada umumnya
senang menerima yang baik-baik saja.
- Motivasi Negatif (Insentif negatif), manajer memotivasi
bawahannya dengan memberi hukuman kepada mereka yang memotivasi negatif ini
semangat kerja bawahan dengan jangka waktu pendek akan meningkat, karena mereka
takut dihukum., tetapi untuk jangka waktu panjang dapat berakibat kurang baik.
