• HOME
  • ABOUT ME
  • PMP
  • TESIS
  • Tampilkan postingan dengan label PENGAMBILAN-KEPUTUSAN. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label PENGAMBILAN-KEPUTUSAN. Tampilkan semua postingan

    Sabtu, 18 Oktober 2014

    Pengambilan Keputusan

    RESUME PENGAMBILAN KEPUTUSAN




    Materi Dari Kelompok 3



    A.          Definisi Konseptual
    1.  Ralph C. Davis (Hasan, 2004) : memberikan definisi atau atau pengertian keputusan sebagai hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
    2.      Mary Follet : memberikan definisi atau pengertian keputusan sebagai suatu atau sebagai hokum situasi. Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semuayang terlibat, baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumannya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewenang dari hukum situasi.
    3. Sondang P. Siagian :memberikan definisi atau pengertian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
    4.      Decision making is a process of making a choice from a number of alternatives to achieve a desired result (Eisenfuhr, 2011)”.  Artinya Pengambilan keputusan adalah proses membuat pilihan dari sejumlah alternatif untuk mencapai hasil yang diinginkan.[1]



    [1]
    Lunenburg, F. C. (2010). The Decision Making Process. NATIONAL FORUM OF EDUCATIONAL ADMINISTRATION AND SUPERVISION JOURNAL , XXVII, 1.



    B.    Penelitian Yang Relevan
    Pengambilan keputusan adalah salah satu dari aktivitas yang paling utama di mana pengurus sekolah dilibatkan sehari-hari. Sukses suatu sekolah atau daerah sekolah dengan kritis dihubungkan ke keputusan efektif.
    Ilmuwan historis telah menekankan dua model dasar pengambilan keputusan model rasional dan model rasionalitas terikat (Maret, 2010).
    ·         Model Rasional :

    Pengambilan keputusan administratif diasumsikan untuk dijadikan masuk akal. Dengan ini kita mengartikan bahwa keputusan buatan pengurus sekolah di bawah kepastian. Mereka mengetahui alternatif mereka, mereka mengetahui hasil mereka, mereka mengetahui ukuran-ukuran keputusan mereka, dan mereka mempunyai kemampuan untuk membuat pilihan jumlah maksimum dan kemudian untuk menerapkan (Towler, 2010). Menurut model yang masuk akal, proses pengambilan keputusan dapat dipecah ke dalam enam langkah-langkah (Schoenfeld, 2011).

    1.       Mengidentifikasi masalah
    2.       Alternatif pembangkit
    3.       Mengevaluasi alternatif
    4.       Pemilihan sebuah alternatif
    5.       Menerapkan keputusan
    6.       Evaluasi efektivitas keputusan

    ·      Model rasional terikat :

    Berlawanan dengan rasionalitas lengkap di dalam pengambilan keputusan, rasionalitas yang terikat menyiratkan hal berikut ini ( Simon, 1982, 1997, 2009):
    1.    Keputusan akan selalu didasarkan pada suatu yang tidak sempurna dan, sampai taraf tertentu, pengertian tidak cukup dari yang dialami, yang benar masalah dihadapi.
    2.    Pembuat keputusan tidak pernah akan berhasil membangitkan semua solusi alternatif mungkin untuk pertimbangan.
    3.    Alternatif selalu dievaluasi dengan kesenjangan sebab adalah mustahil untuk meramalkan dengan teliti semua konsekwensi berhubungan dengan alternatif masing-masing.
    4.    Keputusan yang terakhir mengenai alternatif yang mana untuk memilih harus didasarkan pada ukuran beberapa selain dari maksimalisasi atau optimisasi sebab adalah mustahil untuk pernah menentukan alternatif yang adalah optimal.
    kesimpulan
    Pengambilan keputusan merupakan salah satu kegiatan yang paling penting di mana administrator sekolah terlibat sehari-hari. Keberhasilan sekolah secara kritis terkait dengan keputusan yang efektif. Pengambilan keputusan adalah proses yang melibatkan pilihan. Proses ini umumnya terdiri dari beberapa langkah: identifikasi masalah, menghasilkan alternatif, mengevaluasi alternatif, memilih alternatif, melaksanakan keputusan, dan mengevaluasi efektivitas keputusan. Dua pendekatan utama untuk pengambilan keputusan telah diidentifikasi. Model rasional ciri pengambil keputusan benar-benar sebagai rasional mencari melalui informasi yang sempurna untuk membuat keputusan yang optimal. Ketidaksempurnaan yang melekat pada pengambil keputusan dan sistem sosial dan organisasi di mana mereka tertanam menerapkan pembatasan pada kemampuan para pengambil keputusan untuk memproses informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan yang kompleks (rasionalitas terikat) yang membatasi pengambil keputusan untuk mencari solusi yang kurang optimal.
    Conclusion
    Decision making is one of the most important activities in which school administrators engage daily. The success of a school is critically linked to effective decisions. Decision making is a process involving choices. The process generally consists of several steps: identifying problems, generating alternatives, evaluating alternatives, choosing an alternative, implementing the decision, and evaluating decision effectiveness.
    Two major approaches to decision making have been identified. The rational model characterizes decision makers as completely rational - searching through perfect information to make optimal decisions. The inherent imperfections of decision makers and the social and organizational systems in which they are imbedded impose limitations on decision makers' ability to process information needed to make complex decisions (bounded rationality) that restrict decision makers to finding solutions that are less than optimal.[1]




    [1] (Lunenburg, 2010)


    C.       Pembahasan
              1.1.    Pengertian Pengambilan Keputusan

     Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin(manajer). Definisi-definisi pengambilan keputusan menurut beberapa para ahli:
    1)  George R. Terry  
    election of behavioral alternative is certain from two or more existing alternative”pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
    2)  Syafaruddin Anzizhan
    Proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternative untuk menetapkan suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
    3)  James A. F. Stoner
    process used to chosen an action as mode trouble shooting.” Proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.

              1.2.    Langkah-Langkah Dalam Pengambilan Keputusan

    a)    Mengidentifikasi suatu masalah
    b)    Memperjelas dan menyusun prioritas sasaran-sasaran
    c)    Menciptakan pilihan-pilihan
    d)    Menilai pilihan-pilihan
    e)    Memperbandingkan akibat-akibat yang diramalkan pada masing-masing pilihan
    f)     Memilih pilihan dengan konsekuensi-konsekuensi dengan dengan sasaran-sasaran(Drummond,1995:3).

              1.3.    Jenis Masalah Dan Keputusan

    Masalah atau problem dibagi menjadi 3 golongan besar yaitu:
    1.  Masalah Korektif adalahmasalah yang timbul karena adanya penyimpangan dari apa yang direncanakan.
    2.  Masalah Progresif  adalah suatu masalah yang terjadi akibat adanya keinginan untuk memperbaiki atau meningkatkan suatu prestasi atau hasil masa lalu.
    3.  Masalah kreatif  adalah suatu masalah yang muncul karena adanya keinginan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru.
    Secara umum keputusan terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
    ·      Keputusan Strategis, setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan atau organisasional. Kebijakan dan arah organisasi merupakan keputusan strategis.
    ·       Keputusan Operasiona, adapun keputusan operasional menyangkut pengelolaan organisasi sehari-hari. Keputusan operasional sangat menentukan efektivitas keputusan strategis yang diambil oleh para manajer puncak(Drummond, 1995:13)
    Disisi lain, ada pula jenis keputusan  berdasarkan masalah yang dihadapi yaitu:
    ·      Keputusan yang diprogramkan(program decision)
    Keputusan ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan pada problem yang diketahui secara baik(well-structured problems) atau masalahnya diketahui secara jelas.
    ·      Keputusan yang tidak diprogram(non-programed decision)
    Keputusan ini adalah keputusan yang diambil atau dibuat berdasarkan masalah yang tidak diketahui secara jelas(ill-stuctured problems) atau data dan informasinya kurang tersedia sebagaimana mestinya.

              1.4.    Gaya Pengambilan Keputusan

    Gaya pengambilan keputusan terbagi menjadi 4, yaitu:
    1.  Gaya Direktif
    Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorienytasi pada tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis, pragmatis dan sistematis dalam memecahkan masalah.Pembuat keputusan direktif juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Mereka berorientasi pada tindakan, cenderung mempunyai fokus jangka pendek, suka menggunakan kekuasaan, ingin mengontrol, dan secan menampilkan gaya kepemimpinan otokratis.
    2.  Gaya Analitik
    Pembuat keputusan gaya analitikmempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang  kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu.Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif darpada pembuat keputusan direktif.Mereka juga memerlukan waktu lama untuk mengambil kepuputusan mereka merespons situasi baru atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya kepemimpinan otokratis.
    3.  Gaya Konseptual
    Pembuat keputusan gaya konseptual mempunyai toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang.Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan.Pembuat keputusan konseptual juga berani mengambil risiko dan cenderung bagus dalam menemukan solusi yang kreatif atas masalah.Akan tetapi, pada saat bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan pendekatan idealistis dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
    4.  Gaya Perilaku
    Pembuat keputusan gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat. Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat, dan menyukai informasi verbal daripada tulisan. Mereka cenderung menghindari konflik dan sepenuhnya peduli dengan kebahagiaan orang lain. Akibatnya, pembuat keputusan mempunyai kesulitan untuk berkata 'tidak' kepada orang lain, dan mereka tidak membuat keputusan yang tegas, terutama saat hasil keputusan akan membuat orang sedih.

              1.5.    Kondisi Pengambilan Keputusan

    1)  Pengambilan keputusan dalam kondisi pasti
    yaitu pengambilan keputusan dimana berlangsung hal-hal :
    · Alternatif yang harus dipilih hanya memiliki satu konsekuensi/jawaban/hasil. Ini berarti hasil dari setiap alternatif tindakan tersebut dapat ditentukan dengan pasti.
    ·      Keputusan yg diambil didukung oleh informasi/data yg lengkap, sehingga dapat diramalkan secara akurat hasil dari setiap tindakan yang dilakukan.
    ·  Dalam kondisi ini, pengambil keputusan secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
    · Biasanya selalu dihubungkan dengan keputusan yang menyangkut masalah rutin, karena kejadian tertentu di masa yang akan datang dijamin terjadi.
    ·   Pengambilan keputusan seperti ini dapat ditemui dalam kasus/model yg beresifat deterministik.


    2)  Pengambilan Keputusan dalam kondisi resiko
    adalah pengambilan keputusan dimana berlangsung hal-hal :
    ·      Alternatif yang dipilih mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil.
    ·      Pengambilan keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan.
    ·   Diasumsikan bahwa pengambilan keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.
    ·    Resiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya.
    ·  Pada kondisi ini ada informasi atau data yang akan mendukung dlm membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan.
    ·    Teknik pemecahannya menggunakan konsep probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori probabilistik, model antrian probabilistik.
    3)  Pengambilan Keputusan dalam kondisi tidak pasti
    yaitu pengambilan keputusan dimana :
    ·      Tidak diketahu sama sekali hal jumlah kondisi yang mungkin timbul serta kemungkinan-kemungkinan munculnya kondisi-kondisi tersebut.
    ·   Pengambilan keputusan tidak dapat menentukan probabilitas terjadinya berbagai kondisi  atau hasil yang keluar.
    · Pengambil keputusan tidak mempunyai pengetahuan atau informasi lengkap mengenai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan tersebut..
    ·   Hal yang akan diputuskan biasanya relatif belum pernah terjadi. Tingkat ketidakpastian keputusan semacam ini dapat dikurangi dengan cara :
    v Mencari informasi lebih banyak.
    v Melalui riset atau penelitian.
    v Penggunaan probabilitas subjektif
    ·   Teknik pemecahannya adalah menggunakan beberapa metode/kreteria, yaitu metode maximin, metode maximax, metode Laplace, metode minimax regret, metode relaisme dan dibantu dengan tabel hasil (pay off tabel).

    4)  Pengambilan Keputusan dalam kondisi Konflik 
    adalah pengambilan keputusan dimana :
    ·   Kepentingan dua atau lebih pengambil keputusan saling bertentangan dalam situasi persaingan.
    · Pengambil keputusan saling bersaing dengan pengambil keputusan lainnya yg rasional, tanggap dan bertujuan untuk memenangkan persaingan tersebut.
    ·      Pengambil keputusan bertindak sebagai pemain dalam suatu permainan.
    ·      Teknik pemecahannya adalah menggunakan teori permainan.


        
    1.6.    Pendekatan Pengambilan Keputusan

    1)  Pendekatan filosofi
    a)  Konsekuensialisme, Utilitarianisme, atau Teleologi
    Pelaku Konsekuensialisme sungguh-sungguh dalam memaksimalkan manfaat yang dihasilkan oleh keputusan.Paham ini berpegang pada prinsip bahwa suatu tindakan itu benar secara moral jika dan hanya jika tindakan itu memaksimalkan manfaat bersih. Dengan kata lain, suatu tindakan dan juga keputusan disebut etis jika konsekuensi yang menguntungkan lebih besar daripada konsekuensi yang merugikan. Utilitarianisme klasik berkaitan dengan utilitas keseluruhan, mencakup keseluruhan varian, dan karenanya hal ini hanyalah sebagian manfaat dalam pengambilan keputusan etis dalam konteks bisnis, profesional dan organisasi.Konsekuensialisme dan utilitarianisme berfokus pada hasil atau akhir dari tindakan, maka disebut juga Teleological.
        b)  Deontologi
       Berbeda dengan konsekuensialisme, deontologi berfokus pada kewajiban dan tanggung jawab yang memotivasi suatu keputusan atau tindakan dan bukan pada konsekuensi dari tindakan.Tindakan yang didasarkan pada pertimbangan kewajiban, hak, dan keadilan sangat penting bagi professional, direktur, dan eksekutif yang diharapkan memenuhi kewajibannya. Menambah konsekuensialisme dengan analisis deontologi secara khusus termasuk perlakuan yang adil akan menjaga terhadap situasi dimana untuk kepentingan apa pertimbangan konsekuensi yang menguntungkan akan diperbolehkan untuk membenarkan tindakan ilegal atau tidak etis dalam mencapai tujuan.
        c)   Virtue Ethics
      Kalau kedua pendekatan tadi menekankan pada konsekuensi dari tindakan atau tanggung jawab, hak dan prinsip-prinsip sebagai panduan untuk membenarkan kebiasaan moral, etika kebajikan berkaitan dengan aspek motivasi dari karakter moral yang ditunjukkan oleh pengambil keputusan.
    2)  Pendekatan 5 pertanyaan
    Kerangka  5-pertanyaan adalah pendekatan berguna untuk pertimbangan tertib masalah tanpa banyak eksternalitas dan di mana fokus khusus yang diinginkan oleh perancang proses pengambilan untuk pengobatan yang diperluas dari pendekatan ini.
    Pendekatan 5 pertanyaan opsional dirancang untuk memfokuskan proses pengambilan keputusan pada relevansi isu tertentu untuk organisasi  atau pengambil keputusan yang terlibat.
    3)  Pendekatan standar moral
    Pendekatan standar moral untuk analisis dampak stakeholder yang dibangun langsung pada tiga kepentingan mendasar dari stakeholder.
    Hal ini agak lebih umum dalam fokus dari pendekatan 5-pertanyaan, dan memimpin pengambil keputusan untuk analisis yang lebih luas berdasarkan keuntungan bersih bukan hanya profitabilitas sebagai tantangan pertama dari keputusan yang diusulkan.
    Akibatnya, ia menawarkan sebuah kerangka yang lebih cocok untuk pertimbangan keputusan yang memiliki dampak signifikan di luar korporasi dari kerangka kerja 4-pertanyaan.
    4)  Pendekatan pastin
    Pastin menggunakan konsep etika aturan dasar untuk apture gagasan bahwa individu dan organisasi memiliki aturan-aturan dasar atau nilai-nilai fundamental yang mengatur perilaku mereka atau perilaku yang diinginkan. Jika keputusan dipandang menyinggung nilai-nilai ini, ada kemungkinan bahwa disenchamtment atau relatiation akan terjadi. Sayangnya, hal ini dapat menyebabkan pemecatan seorang karyawan yang bertindak tanpa pemahaman  aturan dasar etika baik dari organisasi pengusaha yang terlibat. Dalam rangka untuk memahami aturan dasar yang berlaku untuk benar mengukur komitmen organisasi untuk proposal dan untuk melindungi pembuat keputusan., Pastin menunjukkan bahwa pemeriksaan keputusan masa lalu atau tindakan dibuat. Ia menyebut ini pendekatan reverse engineering keputusan, karena upaya ini dilakukan untuk mengambil keputusan masa lalu terpisah untuk melihat bagaimana dan mengapa mereka dibuat. Pastin menunjukkan bahwa orang sering dijaga (secara sukarela atau tanpa sadar) tentang mengekspresikan nilai-nilai mereka, dan bahwa reverse engineering menawarkan cara untuk melihat, melalui tindakan masa lalu, apa nilai-nilai mereka.
    Pastin menggunakan konsep etika aturan dasar untuk apture gagasan bahwa individu dan organisasi memiliki aturan-aturan dasar atau nilai-nilai fundamental yang mengatur perilaku mereka atau perilaku yang diinginkan. Jika keputusan dipandang menyinggung nilai-nilai ini, ada kemungkinan bahwa disenchamtment atau relatiation akan terjadi.


     
    daniaev's blog Blogger Template by Ipietoon Blogger Template