RESUME PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Materi Dari Kelompok 3
A. Definisi Konseptual
1. Ralph C. Davis (Hasan, 2004) : memberikan
definisi atau atau pengertian keputusan sebagai hasil pemecahan masalah yang
dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap
suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang
dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa
tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula.
2.
Mary Follet : memberikan
definisi atau pengertian keputusan sebagai suatu atau sebagai hokum situasi.
Apabila semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semuayang terlibat,
baik pengawas maupun pelaksana mau mentaati hukumannya atau ketentuannya, maka
tidak sama dengan mentaati perintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu
merupakan wewenang dari hukum situasi.
3. Sondang P. Siagian :memberikan
definisi atau pengertian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan
yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil
tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat.
4.
“Decision making is a process of making a
choice from a number of alternatives to achieve a desired result (Eisenfuhr, 2011)”.
Artinya Pengambilan keputusan adalah proses membuat pilihan dari
sejumlah alternatif untuk mencapai hasil yang diinginkan.[1]
Lunenburg, F. C. (2010). The Decision
Making Process. NATIONAL FORUM OF EDUCATIONAL ADMINISTRATION AND SUPERVISION
JOURNAL , XXVII, 1.
B. Penelitian Yang Relevan
Pengambilan keputusan adalah salah satu dari aktivitas
yang paling utama di mana pengurus sekolah dilibatkan sehari-hari. Sukses suatu
sekolah atau daerah sekolah dengan kritis dihubungkan ke keputusan efektif.
Ilmuwan historis telah menekankan dua model
dasar pengambilan keputusan model rasional dan model rasionalitas terikat
(Maret, 2010).
·
Model Rasional :
Pengambilan keputusan administratif diasumsikan untuk
dijadikan masuk akal. Dengan ini kita mengartikan bahwa keputusan buatan
pengurus sekolah di bawah kepastian. Mereka mengetahui
alternatif mereka, mereka mengetahui hasil mereka, mereka mengetahui
ukuran-ukuran keputusan mereka, dan mereka mempunyai kemampuan untuk membuat
pilihan jumlah maksimum dan kemudian untuk menerapkan (Towler, 2010). Menurut
model yang masuk akal, proses pengambilan keputusan dapat dipecah ke dalam enam
langkah-langkah (Schoenfeld, 2011).
- Mengidentifikasi masalah
- Alternatif pembangkit
- Mengevaluasi alternatif
- Pemilihan sebuah alternatif
- Menerapkan keputusan
- Evaluasi efektivitas keputusan
·
Model rasional terikat :
Berlawanan dengan rasionalitas lengkap di
dalam pengambilan keputusan, rasionalitas yang terikat menyiratkan hal berikut
ini ( Simon, 1982, 1997, 2009):
1.
Keputusan akan selalu didasarkan pada suatu yang tidak sempurna dan,
sampai taraf tertentu, pengertian tidak cukup dari yang dialami, yang benar
masalah dihadapi.
2.
Pembuat keputusan tidak pernah akan berhasil membangitkan semua solusi
alternatif mungkin untuk pertimbangan.
3.
Alternatif selalu dievaluasi dengan kesenjangan sebab adalah mustahil
untuk meramalkan dengan teliti semua konsekwensi berhubungan dengan alternatif
masing-masing.
4.
Keputusan yang terakhir mengenai alternatif yang mana untuk memilih
harus didasarkan pada ukuran beberapa selain dari maksimalisasi atau optimisasi
sebab adalah mustahil untuk pernah menentukan alternatif yang adalah optimal.
kesimpulan
Pengambilan keputusan merupakan salah satu
kegiatan yang paling penting di mana administrator sekolah terlibat
sehari-hari. Keberhasilan sekolah secara kritis terkait dengan keputusan yang
efektif. Pengambilan keputusan adalah proses yang melibatkan pilihan. Proses
ini umumnya terdiri dari beberapa langkah: identifikasi masalah, menghasilkan
alternatif, mengevaluasi alternatif, memilih alternatif, melaksanakan
keputusan, dan mengevaluasi efektivitas keputusan. Dua pendekatan utama untuk
pengambilan keputusan telah diidentifikasi. Model rasional ciri pengambil
keputusan benar-benar sebagai rasional mencari melalui informasi yang sempurna
untuk membuat keputusan yang optimal. Ketidaksempurnaan yang melekat pada
pengambil keputusan dan sistem sosial dan organisasi di mana mereka tertanam
menerapkan pembatasan pada kemampuan para pengambil keputusan untuk memproses
informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan yang kompleks (rasionalitas
terikat) yang membatasi pengambil keputusan untuk mencari solusi yang kurang
optimal.
Conclusion
Decision making is one of the most important
activities in which school administrators engage daily. The success of a school
is critically linked to effective decisions. Decision making is a process
involving choices. The process generally consists of several steps: identifying
problems, generating alternatives, evaluating alternatives, choosing an
alternative, implementing the decision, and evaluating decision effectiveness.
Two major approaches to decision making have been identified. The
rational model characterizes decision makers as completely rational - searching
through perfect information to make optimal decisions. The inherent
imperfections of decision makers and the social and organizational systems in
which they are imbedded impose limitations on decision makers' ability to
process information needed to make complex decisions (bounded rationality) that
restrict decision makers to finding solutions that are less than optimal.[1]
C. Pembahasan
1.1. Pengertian Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin(manajer). Definisi-definisi pengambilan keputusan menurut beberapa para ahli:
1) George R. Terry
“election of behavioral alternative is certain from two or more existing alternative”. pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
2) Syafaruddin Anzizhan
Proses pemecahan masalah dengan menentukan pilihan dari beberapa alternative untuk menetapkan suatu tindakan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
3) James A. F. Stoner
“process used to chosen an action as mode trouble shooting.” Proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
1.2. Langkah-Langkah Dalam Pengambilan Keputusan
a)
Mengidentifikasi suatu masalah
b)
Memperjelas dan menyusun prioritas
sasaran-sasaran
c)
Menciptakan pilihan-pilihan
d)
Menilai pilihan-pilihan
e)
Memperbandingkan akibat-akibat yang
diramalkan pada masing-masing pilihan
f)
Memilih pilihan dengan konsekuensi-konsekuensi
dengan dengan sasaran-sasaran(Drummond,1995:3).
1.3. Jenis Masalah Dan Keputusan
Masalah atau problem dibagi menjadi 3
golongan besar yaitu:
1. Masalah Korektif adalahmasalah
yang timbul karena adanya penyimpangan dari apa yang direncanakan.
2. Masalah Progresif adalah
suatu masalah yang terjadi akibat adanya keinginan untuk memperbaiki atau
meningkatkan suatu prestasi atau hasil masa lalu.
3. Masalah kreatif adalah
suatu masalah yang muncul karena adanya keinginan untuk menciptakan sesuatu
yang sama sekali baru.
Secara umum keputusan terbagi menjadi dua,
yaitu sebagai berikut:
·
Keputusan Strategis,
setiap organisasi melahirkan berbagai kebijakan atau organisasional. Kebijakan
dan arah organisasi merupakan keputusan strategis.
·
Keputusan
Operasiona, adapun keputusan operasional menyangkut
pengelolaan organisasi sehari-hari. Keputusan operasional sangat
menentukan efektivitas keputusan strategis yang diambil oleh para manajer
puncak(Drummond, 1995:13)
Disisi
lain, ada pula jenis keputusan berdasarkan masalah yang dihadapi
yaitu:
·
Keputusan yang
diprogramkan(program decision)
Keputusan
ini adalah keputusan yang dibuat berdasarkan pada problem yang diketahui
secara baik(well-structured problems) atau masalahnya diketahui secara jelas.
·
Keputusan yang
tidak diprogram(non-programed decision)
Keputusan
ini adalah keputusan yang diambil atau dibuat berdasarkan masalah yang tidak
diketahui secara jelas(ill-stuctured problems) atau data dan informasinya
kurang tersedia sebagaimana mestinya.
1.4. Gaya Pengambilan Keputusan
Gaya
pengambilan keputusan terbagi menjadi 4, yaitu:
1. Gaya Direktif
Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai
toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorienytasi pada tugas dan masalah
teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis, pragmatis dan
sistematis dalam memecahkan masalah.Pembuat keputusan direktif juga berfokus
pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Mereka berorientasi
pada tindakan, cenderung mempunyai fokus jangka pendek, suka menggunakan
kekuasaan, ingin mengontrol, dan secan menampilkan gaya kepemimpinan otokratis.
2. Gaya Analitik
Pembuat keputusan gaya analitikmempunyai
toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang kuat serta
orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya,
mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu.Mereka mengevaluasi lebih banyak
informasi dan alternatif darpada pembuat keputusan direktif.Mereka juga
memerlukan waktu lama untuk mengambil kepuputusan mereka merespons situasi baru
atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya
kepemimpinan otokratis.
3. Gaya Konseptual
Pembuat
keputusan gaya konseptual mempunyai toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang
yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam
memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan
masa mendatang.Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak
mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi
dalam mengambil keputusan.Pembuat keputusan konseptual juga berani mengambil
risiko dan cenderung bagus dalam menemukan solusi yang kreatif atas
masalah.Akan tetapi, pada saat bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan
pendekatan idealistis dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
4. Gaya Perilaku
Pembuat
keputusan gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang
yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja
dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran
pendapat. Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat, dan menyukai
informasi verbal daripada tulisan. Mereka cenderung menghindari konflik dan
sepenuhnya peduli dengan kebahagiaan orang lain. Akibatnya, pembuat keputusan
mempunyai kesulitan untuk berkata 'tidak' kepada orang lain, dan mereka tidak
membuat keputusan yang tegas, terutama saat hasil keputusan akan membuat orang
sedih.
1.5. Kondisi Pengambilan Keputusan
1) Pengambilan keputusan dalam kondisi pasti
yaitu pengambilan keputusan dimana berlangsung hal-hal :
· Alternatif yang harus dipilih hanya memiliki satu konsekuensi/jawaban/hasil. Ini berarti hasil dari setiap alternatif tindakan tersebut dapat ditentukan dengan pasti.
· Keputusan yg diambil didukung oleh informasi/data yg lengkap, sehingga dapat diramalkan secara akurat hasil dari setiap tindakan yang dilakukan.
· Dalam kondisi ini, pengambil keputusan secara pasti mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
· Biasanya selalu dihubungkan dengan keputusan yang menyangkut masalah rutin, karena kejadian tertentu di masa yang akan datang dijamin terjadi.
· Pengambilan keputusan seperti ini dapat ditemui dalam kasus/model yg beresifat deterministik.
2) Pengambilan Keputusan dalam kondisi resiko
adalah pengambilan keputusan dimana berlangsung hal-hal :
· Alternatif yang dipilih mengandung lebih dari satu kemungkinan hasil.
· Pengambilan keputusan memiliki lebih dari satu alternatif tindakan.
· Diasumsikan bahwa pengambilan keputusan mengetahui peluang yang akan terjadi terhadap berbagai tindakan dan hasil.
· Resiko terjadi karena hasil pengumpulan keputusan tidak dapat diketahui dengan pasti, walaupun diketahui nilai probabilitasnya.
· Pada kondisi ini ada informasi atau data yang akan mendukung dlm membuat keputusan, berupa besar atau nilai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan.
· Teknik pemecahannya menggunakan konsep probabilitas, seperti model keputusan probabilistik, model inventori probabilistik, model antrian probabilistik.
3) Pengambilan Keputusan dalam kondisi tidak pasti
yaitu pengambilan keputusan dimana :
· Tidak diketahu sama sekali hal jumlah kondisi yang mungkin timbul serta kemungkinan-kemungkinan munculnya kondisi-kondisi tersebut.
· Pengambilan keputusan tidak dapat menentukan probabilitas terjadinya berbagai kondisi atau hasil yang keluar.
· Pengambil keputusan tidak mempunyai pengetahuan atau informasi lengkap mengenai peluang terjadinya bermacam-macam keadaan tersebut..
· Hal yang akan diputuskan biasanya relatif belum pernah terjadi. Tingkat ketidakpastian keputusan semacam ini dapat dikurangi dengan cara :
v Mencari informasi lebih banyak.
v Melalui riset atau penelitian.
v Penggunaan probabilitas subjektif
· Teknik pemecahannya adalah menggunakan beberapa metode/kreteria, yaitu metode maximin, metode maximax, metode Laplace, metode minimax regret, metode relaisme dan dibantu dengan tabel hasil (pay off tabel).
4) Pengambilan Keputusan dalam kondisi Konflik
adalah pengambilan keputusan dimana :
· Kepentingan dua atau lebih pengambil keputusan saling bertentangan dalam situasi persaingan.
· Pengambil keputusan saling bersaing dengan pengambil keputusan lainnya yg rasional, tanggap dan bertujuan untuk memenangkan persaingan tersebut.
· Pengambil keputusan bertindak sebagai pemain dalam suatu permainan.
· Teknik pemecahannya adalah menggunakan teori permainan.
1.6. Pendekatan Pengambilan Keputusan
1) Pendekatan filosofi
a) Konsekuensialisme,
Utilitarianisme, atau Teleologi
Pelaku Konsekuensialisme sungguh-sungguh dalam
memaksimalkan manfaat yang dihasilkan oleh keputusan.Paham ini berpegang pada
prinsip bahwa suatu tindakan itu benar secara moral jika dan hanya jika tindakan
itu memaksimalkan manfaat bersih. Dengan kata lain, suatu tindakan dan juga
keputusan disebut etis jika konsekuensi yang menguntungkan lebih besar daripada
konsekuensi yang merugikan. Utilitarianisme klasik berkaitan dengan utilitas
keseluruhan, mencakup keseluruhan varian, dan karenanya hal ini hanyalah
sebagian manfaat dalam pengambilan keputusan etis dalam konteks bisnis,
profesional dan organisasi.Konsekuensialisme dan utilitarianisme berfokus pada
hasil atau akhir dari tindakan, maka disebut juga Teleological.
b) Deontologi
Berbeda
dengan konsekuensialisme, deontologi berfokus pada kewajiban dan tanggung jawab
yang memotivasi suatu keputusan atau tindakan dan bukan pada konsekuensi dari
tindakan.Tindakan yang didasarkan pada pertimbangan kewajiban, hak, dan
keadilan sangat penting bagi professional, direktur, dan eksekutif yang
diharapkan memenuhi kewajibannya. Menambah konsekuensialisme dengan analisis
deontologi secara khusus termasuk perlakuan yang adil akan menjaga terhadap
situasi dimana untuk kepentingan apa pertimbangan konsekuensi yang
menguntungkan akan diperbolehkan untuk membenarkan tindakan ilegal atau tidak
etis dalam mencapai tujuan.
c) Virtue
Ethics
Kalau
kedua pendekatan tadi menekankan pada konsekuensi dari tindakan atau tanggung
jawab, hak dan prinsip-prinsip sebagai panduan untuk membenarkan kebiasaan
moral, etika kebajikan berkaitan dengan aspek motivasi dari karakter moral yang
ditunjukkan oleh pengambil keputusan.
2) Pendekatan 5 pertanyaan
Kerangka 5-pertanyaan adalah
pendekatan berguna untuk pertimbangan tertib masalah tanpa banyak eksternalitas
dan di mana fokus khusus yang diinginkan oleh perancang proses pengambilan
untuk pengobatan yang diperluas dari pendekatan ini.
Pendekatan 5 pertanyaan opsional dirancang
untuk memfokuskan proses pengambilan keputusan pada relevansi isu tertentu
untuk organisasi atau pengambil keputusan yang terlibat.
3) Pendekatan standar moral
Pendekatan
standar moral untuk analisis dampak stakeholder yang dibangun langsung pada
tiga kepentingan mendasar dari stakeholder.
Hal
ini agak lebih umum dalam fokus dari pendekatan 5-pertanyaan, dan memimpin
pengambil keputusan untuk analisis yang lebih luas berdasarkan keuntungan
bersih bukan hanya profitabilitas sebagai tantangan pertama dari keputusan yang
diusulkan.
Akibatnya,
ia menawarkan sebuah kerangka yang lebih cocok untuk pertimbangan keputusan
yang memiliki dampak signifikan di luar korporasi dari kerangka kerja
4-pertanyaan.
4) Pendekatan pastin
Pastin menggunakan konsep etika aturan dasar
untuk apture gagasan bahwa individu dan organisasi memiliki aturan-aturan dasar
atau nilai-nilai fundamental yang mengatur perilaku mereka atau perilaku yang
diinginkan. Jika keputusan dipandang menyinggung nilai-nilai ini, ada
kemungkinan bahwa disenchamtment atau relatiation akan terjadi. Sayangnya, hal
ini dapat menyebabkan pemecatan seorang karyawan yang bertindak tanpa
pemahaman aturan dasar etika baik dari organisasi pengusaha yang
terlibat. Dalam rangka untuk memahami aturan dasar yang berlaku untuk benar mengukur
komitmen organisasi untuk proposal dan untuk melindungi pembuat keputusan.,
Pastin menunjukkan bahwa pemeriksaan keputusan masa lalu atau tindakan dibuat.
Ia menyebut ini pendekatan reverse engineering keputusan, karena upaya ini
dilakukan untuk mengambil keputusan masa lalu terpisah untuk melihat bagaimana
dan mengapa mereka dibuat. Pastin menunjukkan bahwa orang sering dijaga (secara
sukarela atau tanpa sadar) tentang mengekspresikan nilai-nilai mereka, dan
bahwa reverse engineering menawarkan cara untuk melihat, melalui tindakan masa
lalu, apa nilai-nilai mereka.
Pastin menggunakan konsep etika aturan dasar
untuk apture gagasan bahwa individu dan organisasi memiliki aturan-aturan dasar
atau nilai-nilai fundamental yang mengatur perilaku mereka atau perilaku yang
diinginkan. Jika keputusan dipandang menyinggung nilai-nilai ini, ada
kemungkinan bahwa disenchamtment atau relatiation akan terjadi.
.jpg)
